Aku kembali melangkahkan kaki
mengikuti desau angin yang selalu membisikkan sesuatu
aura bintang-bintang tidak segera menentramkan hampa
seperti biasa
Sekelilingku berhasil membaca diri mereka
tapi tidak aku, aku tidak bisa berbahasa
bahkan gerimis tidak mampu meneduhkan jiwa
seperti pertanda
Pada sosok yang tinggal nama
seonggok daging yang tinggal belulang
mereka yang ditinggal ruh, lalu membeku
seperti aku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar