Biarkan waktu menunjuk dedaun kering
gugur perlahan berkumpul diantara kakimu yang kuning
Biarkan batang pohon tua itu merebah karena bosan
untuk melepas nafas yg berkesudahan
Biarkan mentari memilih bayangannya
untuk kembali memeluk gundukan tanah basah karena airmata
Biarkan kumandang suara dapat kau baca sebagai tanda
menjadi cahaya petunjuk mana arah yang sia-sia
Sebuah pendopo puisi untuk melepas penat, berbagi pikiran, berbagi perasaan atau hanya tempat untuk merenung.
Tampilkan postingan dengan label mati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mati. Tampilkan semua postingan
Rabu, 26 Agustus 2009
Kamis, 03 Juli 2008
Lubang Untukmu
Waktu, sudah sisa berapa untukmu?
di sini aku masih bergumul sepi
menemani kain yang semakin pudar putih
Beku, tertimbun lama bersama tanya
terngiang dalam lubang yang berhitung mundur
berharap terang dalam ingatan kaupun akan melebur
Dedaun yang menguning
Rumput yang mengering
merupakan pesan berhentinya waktu
dan pabila telah tiba masa
lubang itu kuhadiahkan untukmu.
Jumat, 30 Mei 2008
ZIARAH
Aku kembali melangkahkan kaki
mengikuti desau angin yang selalu membisikkan sesuatu
aura bintang-bintang tidak segera menentramkan hampa
seperti biasa
Sekelilingku berhasil membaca diri mereka
tapi tidak aku, aku tidak bisa berbahasa
bahkan gerimis tidak mampu meneduhkan jiwa
seperti pertanda
Pada sosok yang tinggal nama
seonggok daging yang tinggal belulang
mereka yang ditinggal ruh, lalu membeku
seperti aku
mengikuti desau angin yang selalu membisikkan sesuatu
aura bintang-bintang tidak segera menentramkan hampa
seperti biasa
Sekelilingku berhasil membaca diri mereka
tapi tidak aku, aku tidak bisa berbahasa
bahkan gerimis tidak mampu meneduhkan jiwa
seperti pertanda
Pada sosok yang tinggal nama
seonggok daging yang tinggal belulang
mereka yang ditinggal ruh, lalu membeku
seperti aku
Langganan:
Postingan (Atom)