Jumat, 28 Desember 2007

IKHLAS

adalah awan yang mengandung air
bergerak ikuti nasib dalam hembusan angin
tanpa pilih merinaikan butiran dingin
untuk hidup mahluk, dan tanah kering

adalah gerakan-gerakan
yang senantiasa mengikuti bayangan Tuhan
bersabar, bersyukur dan berkurban
jadi tak perlu rasakan panas yang diilhami setan

aku adalah salah satu hamba Tuhan
yang terayak bermacam ujian dan menimbun berbagai kepentingan
terseok menepati seruan dan berharap mati dalam keadaan tenang

aku adalah hamba Tuhanku
Tuhanku hanya satu
Allahu ahad
Allahu ahad
Allahu ahad

Minggu, 25 November 2007

Puisi Maaf

Bagaimana ku lukiskan maaf
Bila kanvas hati enggan kau buka
Bagaimana aku mendekati rindu
Bila sedetik kutemui kau berubah arah

Cahaya demi cahaya aku kirim mengawali senja
Untuk membuka selimut gelap dukamu dan marah
Hanya setetes embun mengalir setiap shubuh
Untuk melubangi hatimu yang berubah membatu

Bagaimana bisa ku dendangkan maaf
Bila partitur cinta sudah terkoyak
Bagaimana pula aku kuasa berteriak rindu
Bila kau bungkam mulut jiwa dengan benci yang lebam membiru

Setangkai demi setangkai aku letakkan mawar maaf
Di lantai yang berdindingkan tembok perih
Dapatkah ku rengkuh kau kembali berseri
'pabila ku turuti maumu ditinggal sendiri




Bayu
26 November 2007
13:32 WIB

Kamis, 22 November 2007

Doa

Sang mentari setia menghangatkan bumi agar hari ini berseri
Mengilhami daun yang berguguran pelan penuh makna apa adanya
Setangkai teratai jiwa berdoa agar kesabaran ceria mengarungi fana
Meliuk-liuk melewati duri perjalanan diri tanpa luka


Sebahagia ungu yang merekah menyatu dalam warna
Mengiringi panah hujan perjalanan usia
Semoga hidup tenang seperti malam tanpa suara binatang
Pun hangat embun bahagia senantiasa membuncah pada pelupuk wajah


Bahagia ombak raga dan layar jiwa
Mengarungi bahtera hingga selamat sampai Dermaga sang Pencipta
Semoga dari kini hingga nanti.

Rabu, 14 November 2007

TERSANGKA


Gumpal awan tipis mulut terhembus berat perlahan dalam ruang khusus tersangka
Mengiring detak detik, suara langkah buncah pada hening yang menggila
Cahaya jalan pelan ke kiri ke kanan mencipta imago menakutkan
Berputar kepala dengar tanya berulang-ulang dari pagi hingga malam


Hypegiaphobia tak pernah mengalir dalam darah, jadi reproduksi saja bukti nyata
Biar pemutus keadilan nanti yang ber
conviction raisonance dalam kalbunya
Aku tidak gemetar dengan suara menggelegar yang kau cipta
Sekalipun racaumu buru cambuk telinga jiwa bakar ranting keyakinan berkata apa adanya


Toh, lebam dada tidak seberapa dibanding rasa sakit di dalamnya
Pun ciprat bercak darah bukan cermin gemeretak yang meresah
Pintaku kau raba saja dinding bukti dengan sah derai fakta
Dengan ikhlas aku akan menelan penjara sebagai rumah kedua


-----------------------------------------------------------------------------------------

*Imago : Bayangan-Roh

*Conviction Raisonance : teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim yang didasarkan hal-hal yang rasional.

*Hypegiaphobia :Takut bertanggungjawab

Kamis, 25 Oktober 2007

Setangkai


Setangkai doa telah ku sirami

Dengan cahaya panas teduh embun pelupuk mata


Setangkai rindu telah kusiangi

Dengan sabit lelah dan cangkul peluh kerja tanpa jeda


Aku menanam setangkai demi setangkai

dengan aura merah berbalut aura putih

Agar ranum nanti kala kupetik sambil berseri


Bukan disini, tapi nanti.

Broken Home


Apa salah sehingga kasih terenggut

Waktu berdecak ketika sama tak berpagut

Pisah itu terakhir kata

Cinta sudah bermulut sejuta

Menangis, dan berdiam pada amarah

Dendam mencari sukma yang salah

Aku tunjuk sembarang tenda senja

Aku kutuk mereka yang melakukan sama

Karena,

Awalnya aku tak berdosa

Dulu depan belakangku adalah cinta

Lalu,

Dituntunnya aku oleh rasa kecewa

hiasan wajahku sungai derita

Sehingga,

yang aku punya ini akar

dan lampias pasti terjalar .

Mantra Menghilang


Tampak muka

Tak tampak punggung

Tampak belakang

Tak tampak muka


Bermanis muka ketika ku jaya

Dan pergi menjauh dikala ku jatuh

Begitulah caranya


Tampak muka

Tak tampak punggung

Tampak belakang

Kulihat belang


Angguk sok patuh jika kau butuh

sok tak acuh kalaku mengaduh

Sebutlah dirimu manusia.


Puah!

Selasa, 23 Oktober 2007

Semoga


Wajah mendung sang bulan terlihat dari kejauhan
aura hitam telah dilahirkan untuk menghujanimu perlahan
dengan kepedihan dan kesakitan seketika
ayal derita kontan tak dinyana

Jadi apalah arti daun gugur
jika kau tetap endap banting dendam tersungkur
sayatan sinar manis itu adalah wakil tangis
mencoba membuka celah agar damai tersenyum tipis

Getarkan sekejap lagi perkusi jiwa
agar mata dan hati terjaga dari tatapan tak berharga
Sifat dunia memang tidak selamanya
tapi persaudaraan akan sepanjang masa, semoga.

Kamis, 27 September 2007

Ini yang aku tanya



Sejak mawar tercerabut dari akar makna


Beku sepimu bahkan memecahkan riuh teriak sang gagak


Lalu kau berlari mengikuti arak-arakan awan


Ini yang aku tanya, ada apa?

Rabu, 19 September 2007

Sambil Menunggu-Mu


Menatap awan menggulung waktu
Melalui aliran keruh sungai dosa aku berkaca
Mencabut helai-helai kekhilafan satu-persatu
Berharap karat nista lepas dan berganti kilau aura

Semoga aku tak lelah sujud dan bersimpuh
menunggu-Mu mengampuni dan mengangkat derajat hamba
Aku di sini menikmati memuji dan memahami keindahan 99 Nama
Di saat mahluk tak tahu diri hanya bisa menuduh dan mencela

Sudut dinding dan permadani ini yang menjadi saksi
Betapa doaku adalah luapan takut dan harap
dengan tangan terangkat dan hangat air kelopak mata
Sambil menunggu-Mu menjemputku meninggalkan jasad yang tak berharga.

20 September 2007
(8 Ramadhan)

Selasa, 18 September 2007

Senjata


Asal ada ini hati tak kan pernah was-was
asalkan ini di sisi kau pasti selalu puas
Akan ku bidik mata-mata yang berani melirik
Bahkan aku berani membuat mereka mati tercekik

Aku tarik pelatuk untuk memuntahkan peluru
Kepada setiap kepala yang nyinyir menyeru
Mampu aku guncangkan tubuh-tubuh kekar
Cukup dengan suara senjata yang menggelegar

Cukup! tahan langkahmu sampai disitu
Peluruku sudah tak sabar ingin menembus dadamu
Tahan inginmu jika kau ingin lari
atau letupan akan bernyanyi dengan senang hati

Ha ha ha...
kau bukan siapa-siapa!
Jika aku memegang senjata.

Senin, 17 September 2007

Shadow


Di belakangku selalu membias
kau nampak namun sekilas
mataku liar mendelik
mencari warnamu yang semakin berbisik

Satu, dua, tiga, tanganku sudah siap menerkam
menanti waktu yang tepat mencekikmu sampai mengerang
Kau selalu membuntuti hari-hariku
Hingga aku kelelahan berlari dan membuat aspal waktu berdebu

Fajar, Terik, Senja bahkan pada saat Purnama
kau mengganggu dan selalu mengikutiku
Namun kau hilang lenyap dalam gelap seketika
ketika tak ada lagi nur membelaimu manja.

(makasih buat Nisa atas inspirasinya ^^)

Ternyata (ketika ku bernyanyi) ^_^


Terpaksaa katamu!?

Ternyata,

Selama ini...

Kamu, kamu...!

Padahaaal ...

Teganya kau

Mengapa kepadakuu!!!

Kamis, 13 September 2007

Ketok Palu


Ruangan yang panas dibalut keringat dan bau tak sedap
mendadak menjadi dingin ketika dia memulai
Tabungan ketenangan dan senyuman ramah
seketika pecah berserak tak tentu arah

Ada yang mencaci, ada yang membela
"Aku menuntut hak, tempatmu di neraka!!"
Tanpa sadar mereka melupakan kewajiban
memaklumi kesalahan dengan memaafkan

Hei, lihat itu sang ksatria
bukan penegakkan keadilan di mulutnya
tapi penuhnya kantung culas dengan uang
Dan yah, tentunya ada campuran kepentingan juga

Adalagi mereka sang pekerja
memutar kepala kemudian berteriak-teriak
"Pemutus Keadilan!, kapan kami bisa hidup dengan tenang?"
"Liat keadaan kami, kami juga punya anak isteri!!"

Jarum pendek pun bergeser cepat
Waktu diakhiri dengan tiga ketukan "Tok,Tok,Tok"
seketika itu juga kami pulang
dengan senyum kecut terpampang.

Teropong


Mata raga sudah redup
Menghalangiku melihat aura dunia
Hanya sampai sini aku sanggup
Menelanjangi bumi yang mulai tua

Namun melihat wajahmu tanpa mata pun aku bisa
Karena aku punya teropong di dalam jiwa
Teropong yang tersimpan rapi di dalam hati
Untuk melihat orang yang kusayangi

Tanpa dokter berdiagnosa aku tau bahwa kau terluka
Tanpa airmata bersaksi aku tau kau sedang bersedih
Pun layaknya mawar yang merekah aku tau kau sedang bahagia

Teropong ini menggantikan mata raga
khusus untukmu, untuk melihatmu
Teropong ini untukmu
untuk menjagamu.

Rabu, 12 September 2007

Semua...


Semua sudah terjadi
tak mungkin aku menyalahkan matahari yang sejak fajar mengiringi hangatnya senyum ini

Semua sudah terjadi, menyatu,
ini dan itu tanpa instruksi
apalagi ?! sudahlah, kau akan kelelahan jika membantah!!! (hatiku berbicara)

Aku tidak mampu mendengarkan keanggunan nada dari dawai-dawai melodi jiwa
Pun, aku tidak bisa lagi menciptakan pukulan-pukulan yang menggetarkan perkusi hati, semua seperti mati

Semua sudah gelap
seperti tidak ada lagi cahaya yang mampu menembus hati, atau ini akibat ulah debu2 kekotoranku sendiri?? whats the matter with me?!!

Entahlah...
Yang pasti semua sudah terjadi
Semua ini yang memang harus aku hadapi
Sampai kapanpun aku tak akan lari.

Selasa, 04 September 2007

Pergi Atau Aku Mati !!!


Aku membelah jiwa menjadi tiga
menggulung awan hitam yang semakin bergemuruh di dalam jiwa

Aliran liar menggagas meluap ke dalam belukar panas yang tak terhingga.
Kuat katamu? kepayahan sudah ku derita dari fajar tadi.

Hei lepaskan aku!
aku tak akan tahan menjilati aura pesonamu selama ini

Matikan saja aku!
Atau aku akan berkamikaze untuk kesekian kali di ruang yang tidak ada siapapun yg melihatku...

Tolong, tolong biarkan aku mati bila kau tak mau pergi!!!.

Pergi atau aku akan mati !!!

Jumat, 10 Agustus 2007

Rem Kehidupan


Aku tidak akan pernah mau beristirahat
jika hanya lelah yang menurutku sedikit
bertengger di bahu kehidupanku.

Berjuang dan tetap stabil
sampai tidak ada lagi kudengar keluhan sakit
atau kulihat ringisan menahan beban.

Namun memang bukanku yang mengatur
Aku hanya diatur, sekuat apapun dan sebaik apapun aku berusaha.

Akhirnya sakit juga yang aku rasakan
tapi aku menikmatinya dari awal sampai akhir
cuma rasa ini yang menjadi rem
yang mampu membuat aku berhenti berlari mencari

Siapa yang sakit? hanya jasadku saja
Jiwaku tetap sama malahan makin membara
tunggulah saatnya.
Kita akan bertarung bersama lagi saudaraku.

Minggu, 15 Juli 2007

Dialog Diri


Hei Qolbu..tenangkan dirimu!
Seharusnya kamu seperti Masjid
Tidak boleh ada di dalammu kecuali Allah

Hei Qolbu..tenangkan dirimu!
Jangan biarkan kau larut dalam kegelapan,
Karena itu hanya melahirkan ketertutupan

Hei Qolbu..tenangkan dirimu!
Sia-sia jika kau harapkan dunia
Kecewa kau bila berharap pada manusia

Hei Qolbu..tenangkan dirimu!
Bersabarlah menjemput sahabat dan cinta, yang bersedia menemani kita
Dan setia ikut terkubur dalam tanah yang sempit dan gulita

Hei Qolbu tenangkan dirimu!
Cemburulah pada dirimu sendiri
Jika kau adalah tempat bersemayam ilmu dan sinar gemerlapan
Abaikan mereka yang lupa oleh dan untuk siapa mereka diciptakan

Hei Qolbu tenangkan dirimu!
Biarkan mereka yang mengejek dan merendahkan,
Hanya Tuhanmulah yang tahu siapa yang mulia diantara mahluk-Nya.
Tugasmu hanyalah kalahkan hawa nafsu itu sampai ia tunduk tak berdaya.

Hei Qolbu tenangkan dirimu!
Jangan pernah kau mengharapkan surga
Jika kau bangga terhadap banyaknya amal
Perhatikan niat di dalam dirimu
Berharap ridho siapakah engkau??

Minggu, 01 Juli 2007

Tolong temani aku ...



Aku ... masih belum bisa
merasakan kehangatan

Aku ... masih belum dapat
merasakan kebahagiaan

Sebagaimana yang pernah aku rasakan
ketika menyemai padang cinta
merajut benang-benang kasih sayang
bersama dirimu ...

Aku ... belum tahu siapa dia
yang bisa menggantikanmu
dapatkah dia membuat aku tersenyum
kemudian tertawa bahagia?

Atau merasakan hati
yang terluka tertusuk cemburu
karena aku takut terpisahkan dari dirimu ...

Aku ... tidak tahu
mana yang mesti aku ikuti
tajamnya akal yang menganalisa kesalahan-kesalahanmu
atau lembutnya kebenaran qolbu yang masih mencintaimu ...

Aku ... setelah kejadian itu
pasti terhapus dari memorimu

Aku ... saat ini pun tidak dapat berharap banyak
untuk bisa kembali seperti dulu

Aku ... hanya ingin kau tahu
Aku ... masih belum dapat melupakanmu

Aku ... hanya ingin kau tahu
dalam detik-detik berakhirnya hidupku ...
hanya bayangmu yang aku harapkan
untuk menemani rasa sakitku ...

Selasa, 26 Juni 2007

Dia Masih Merindukanmu



Aku yakin bulan iri padaku
karena malam ini bintang-bintang hanya mau menatapku

Akupun tersenyum ... seolah kami berdekatan.

Bintang-bintang berbisik pelan di hatiku ...
"Dia masih merindukanmu". seketika air mukaku berubah
Aku tidak lagi tersenyum.

Malam ini aku rasa enggan
untuk lanjut mendengarkan bintang-bintang bercerita.
"Bintang-Bintang malam ini hanya ingin melukai hatiku." Burukku berprasangka.

Duhai bintang-bintang, Dialah mawar terindah,
semerbak harumnya tidak ada duanya di dunia, telah membiusku ... dengan apa adanya dia ...
Dia tetaplah mawar, dia memang berduri dan telah menggores cawan cintaku

Namun duhai bintang-bintang, menatap wajahnya lebih menyejukkan
Dibanding aku membasuh wajahku dengan butiran embun

Auranya yang biru, hijau dan putih
Berpadu dengan indahnya hijab menutupi kilaunya perhiasan
Dia pasti bernilai lebih dari emas termahal yang ada di dalam perut bumi.

Duhai bintang-bintang, kala aku berdekatan dengannya
Aku lupa diri, pikiran melayang, laksana fatamorgana di atas tanah yang datar.
Tidak bisa ku reguk air kenyataannya.

Duhai bintang-bintang, pasti kau pernah merasakan tertutupi awan-awan yang hitam
Disertai percikan-percikan kilat dan gemuruh halilintar
Ombak-ombak menjadi tindih-menindih tidak beraturan
Tanpa ritme yang anggun, semua kacau...
Itu yang kurasakan bila lebah lain mendekati mawarku.

Duhai bintang-bintang, aku memang berpisah
Namun atas nama perasaan yang telah disaksikan oleh bumi, api, air dan udara
"Aku pun masih merindukan dia".

Sabtu, 23 Juni 2007

Ketika Aku Lelah



Ayah, maafkan aku jikalau aku masih mengeluh
Hatiku memang belum setegar karang, tidak seperti hatimu

Ayah, maafkan aku jikalau aku masih menangis
Kaulah sosok yang terkuat untuk mengarungi hidup, bukan aku

Ayah, aku hamba Allah bukan hamba manusia
Jadi aku berharap kau mengerti ketika aku tidak bersemangat mengejar dunia

Ayah, saat ini aku lelah, mereka telah mencaci dan memaki aku
aku butuh kehangatan, kasih sayang, dan ruang di hatimu

Ayah, aku ingin berbaring di hangatnya hatimu
Dilembutnya kasih sayang, untuk menggantikan kasih sayang Ibu.

Jumat, 22 Juni 2007

Rasanya Semriwiiiing....


Itu loooh si Gita, sodara gw yg paling "putih" yg tinggal di Surabaya, akhirnya acara teaternya sukses juga. Jarang2 orang "putih" bisa maen teater (^_^ orangnya gak tau ini gw omongin). klo tau bisa2 gw dilempar wajan hitam jurus andalannya.

Yeah..klo sodari gw sukses, dan bahagia, jadi kebawa juga gw...
rasanya semriwiiiiiiing...

(uggghhh rasanya pengen noyorin sejuta kepala niiiihhhhh !!!)
Waaaataaaaa!!!!

Yang Aku Cari (Pendopo My Bro)

Yang aku cari adalah ketenangan, seperti malam tanpa suara binatang
Yang aku cari adalah kesejukan seperti air sungai di kaki gunung atau embun dikala shubuh

Karena itulah kau aku ciptakan,
Sebuah pendopo untuk melepas kepenatan

Kuciptakan kau di dunia yang tak semua mahluk bisa menjamah
Kuciptakan kau untuk mencurahkan segala resah.

Jakarta, 22 Juni 2007

My Bro