Sebuah pendopo puisi untuk melepas penat, berbagi pikiran, berbagi perasaan atau hanya tempat untuk merenung.
Rabu, 06 Februari 2008
Aku, Kau dan Langit
Mengingat hebatnya cemburu pada terik langit menyengat terasa di kepala
kemudian sekejap mengenang perpisahan kita dalam untaian langit senja
hingga akhirnya aku terlelap dalam kerinduan
berselimutkan langit yang bertabur bintang-bintang.
Hujan Perpisahan
setelah telinga awan mendengar suara-suara berjuta
tidak lagi kini kita sematahari memaknai rindu yang pertama
sejak sajak berpisah mengepak sayap dan berbiak tetes hujan kenangan
5 Feb 2008
22.30 wib
LANGIT RINDU
kutoreh lembut tinta putih berbentuk awan dalam kanvas langit biru
sambil menatap langit aku bertanya pada bunyi dalam sunyi
mengapa kulukis wajahnya lagi?
5 Feb 2008
22.10 wib
Selasa, 22 Januari 2008
PULANG (Haiku)
kanvas imajinasi
kamulah langit
(2) Menemaniku
untuk kembali pulang
menembus awan
(3) Senja berlalu
gelincir roda waktu
iring haruku
~Airasia (ditemani awan)
dari Surabaya menuju Jakarta
21.01.08 - 17:35 WIB~
Rabu, 16 Januari 2008
IMAJINASI BATU
Aku terdiam dalam imajinasi
imajinasi yang membatu pada satu titik di bawah nol membeku
Aku kembali pada alam yang abstrak
dan kenangan pun kembali beriak menjadi fosil ingatan berwarna
Telah terbentuk alami lewat kikisan air sungai, deras air hujan, ganas gelombang laut dan dahsyat kekuatan alam
Semua kembali dalam serak simbolik penuh arti
menyiram pelan lalu terserap kering dalam lubang waktu
Dan aku hanya mampu terpaku
dalam imajinasi batu
Mata Selayak Tambang
Tali tambang bisa mendendang tembang
sejak pandangmu menggugah kalbu untuk merayu
Rasanya mengalahkan kesejukan embun mengalir dari mata turun ke hati
dan memaku kaki untuk berdiri menatap tanpa henti
Matamu selayak tambang yang menarik hatiku untuk berdendang
Kamis, 10 Januari 2008
Aku (hanya) Manusia
seperti bumi
Manusia adalah mahluk rapuh yang banyak salah dan cepat mengeluh
seperti aku