Selasa, 22 Januari 2008

PULANG (Haiku)

(1) Luas nan biru
kanvas imajinasi
kamulah langit

(2) Menemaniku
untuk kembali pulang
menembus awan

(3) Senja berlalu
gelincir roda waktu
iring haruku


~Airasia (ditemani awan)
dari Surabaya menuju Jakarta
21.01.08 - 17:35 WIB~

Rabu, 16 Januari 2008

IMAJINASI BATU

Aku terdiam dalam imajinasi
imajinasi yang membatu pada satu titik di bawah nol membeku

Aku kembali pada alam yang abstrak
dan kenangan pun kembali beriak menjadi fosil ingatan berwarna

Telah terbentuk alami lewat kikisan air sungai, deras air hujan, ganas gelombang laut dan dahsyat kekuatan alam

Semua kembali dalam serak simbolik penuh arti
menyiram pelan lalu terserap kering dalam lubang waktu

Dan aku hanya mampu terpaku
dalam imajinasi batu

Mata Selayak Tambang

Tali tambang bisa mendendang tembang
sejak pandangmu menggugah kalbu untuk merayu

Rasanya mengalahkan kesejukan embun mengalir dari mata turun ke hati
dan memaku kaki untuk berdiri menatap tanpa henti

Matamu selayak tambang yang menarik hatiku untuk berdendang

Kamis, 10 Januari 2008

Aku (hanya) Manusia

Manusia adalah perpaduan neraka dan surga ilahi
seperti bumi

Manusia adalah mahluk rapuh yang banyak salah dan cepat mengeluh
seperti aku

Jumat, 28 Desember 2007

IKHLAS

adalah awan yang mengandung air
bergerak ikuti nasib dalam hembusan angin
tanpa pilih merinaikan butiran dingin
untuk hidup mahluk, dan tanah kering

adalah gerakan-gerakan
yang senantiasa mengikuti bayangan Tuhan
bersabar, bersyukur dan berkurban
jadi tak perlu rasakan panas yang diilhami setan

aku adalah salah satu hamba Tuhan
yang terayak bermacam ujian dan menimbun berbagai kepentingan
terseok menepati seruan dan berharap mati dalam keadaan tenang

aku adalah hamba Tuhanku
Tuhanku hanya satu
Allahu ahad
Allahu ahad
Allahu ahad

Minggu, 25 November 2007

Puisi Maaf

Bagaimana ku lukiskan maaf
Bila kanvas hati enggan kau buka
Bagaimana aku mendekati rindu
Bila sedetik kutemui kau berubah arah

Cahaya demi cahaya aku kirim mengawali senja
Untuk membuka selimut gelap dukamu dan marah
Hanya setetes embun mengalir setiap shubuh
Untuk melubangi hatimu yang berubah membatu

Bagaimana bisa ku dendangkan maaf
Bila partitur cinta sudah terkoyak
Bagaimana pula aku kuasa berteriak rindu
Bila kau bungkam mulut jiwa dengan benci yang lebam membiru

Setangkai demi setangkai aku letakkan mawar maaf
Di lantai yang berdindingkan tembok perih
Dapatkah ku rengkuh kau kembali berseri
'pabila ku turuti maumu ditinggal sendiri




Bayu
26 November 2007
13:32 WIB

Kamis, 22 November 2007

Doa

Sang mentari setia menghangatkan bumi agar hari ini berseri
Mengilhami daun yang berguguran pelan penuh makna apa adanya
Setangkai teratai jiwa berdoa agar kesabaran ceria mengarungi fana
Meliuk-liuk melewati duri perjalanan diri tanpa luka


Sebahagia ungu yang merekah menyatu dalam warna
Mengiringi panah hujan perjalanan usia
Semoga hidup tenang seperti malam tanpa suara binatang
Pun hangat embun bahagia senantiasa membuncah pada pelupuk wajah


Bahagia ombak raga dan layar jiwa
Mengarungi bahtera hingga selamat sampai Dermaga sang Pencipta
Semoga dari kini hingga nanti.