mungkinkah senja memerah mengembalikan
rasa rindu untuk menjadi satu?
atau selaksa makna menjadi sekedar asa terpendar
yang kian lama kian pudar.
mengharapmu seperti menatap mentari
padahal yg kupunya hanya sekuntum rindu
yang hanya untukmu
Sebuah pendopo puisi untuk melepas penat, berbagi pikiran, berbagi perasaan atau hanya tempat untuk merenung.
mungkinkah senja memerah mengembalikan
rasa rindu untuk menjadi satu?
atau selaksa makna menjadi sekedar asa terpendar
yang kian lama kian pudar.
mengharapmu seperti menatap mentari
padahal yg kupunya hanya sekuntum rindu
yang hanya untukmu
Matang usia terpana melihat kilau,
berlari, menuju oase fatamorgana
melepuh dibakar waktu,lupa diri, jauh mengingkari janji.
Pada saatnya sekejap dijemput gerbang
dengan rasa tusukan tiga ratus pedang
dan hanya mampu menangisi janji dalam gelap yang bernisan.
Waktu, sudah sisa berapa untukmu?
di sini aku masih bergumul sepi
menemani kain yang semakin pudar putih
Beku, tertimbun lama bersama tanya
terngiang dalam lubang yang berhitung mundur
berharap terang dalam ingatan kaupun akan melebur
Dedaun yang menguning
Rumput yang mengering
merupakan pesan berhentinya waktu
dan pabila telah tiba masa
lubang itu kuhadiahkan untukmu.
Beberapa jam yang lalu aku bicara
pada hatinya yang hampir temaram api
: aku mau mati
berkata ia lebih dari satu kali
Sekilas tampak kulihat
bekas luka akibat terkoyak hampa
Hati itu layu terkurung sendu
hanya merindu, menunggu.
: aku mau mati
katanya lagi
Tak lama dengan wajah tertunduk
dia katakan akan menjelma karang
: aku akan mencoba bertahan
kata-kata itu keluar meyakinkan
Aku mengerti kini mengapa bunga tetap menunggu
walau lebah tidak selalu menghisap madu
:semoga yang hilang datang kembali
dan kau pun menutup cerita dengan lagu sedih air mata
Ada rasa yang tertinggal
saat ingin melangkah jauh ke depan
hingga menjelma tetesan tanya
yang tumpah dari gumpalan awan resah
Pernah aku tanya pada angin
bagaimana ia bisa sebegitu dingin
angin berkata : "aku hanya potongan puing
dari puzzle kehidupan yang tak perlu kau susun!"
aku jadi enggan bertanya pada angin
Lalu aku bertanya pada dedaun pohon persahabatan
mereka adalah separuh pikiran juga hatiku
mereka senantiasa berbagi tawa dan kecewa
sahabat selalu berkata :
"jangan pernah kau jatuh ke dalam lubang kesepian,
akan ada pohon lain di sana, tapi kami jangan dilupakan"
aku hanya bisa berharap pohon di sana seteduh kalian
Dan diantara ombak merah yang makin menyala
aku melihat sinar putih
pada mereka yang takut Tuhannya
Kali ini, aku tidak bertanya
hanya mengikuti langkah mereka
Saat itulah hatiku berkata : "Bukan ridho manusia, tapi ridho Allah-lah dermaga".
Dan kini ku tau kemana harus melangkah
Sayangnya, kenangan tidak bisa berubah warna.